Selasa, 20 Februari 2018

Youtubers Ini Nekat Bikin Film Berbahasa Jawa

JAKARTA – Bayu Skak memulai debutnya sebagai sutradara bersama Fajar Nugros dalam film komedi Yowis Ben, sekaligus juga menjadi aktor utama bersama Cut Meyriska.
YouTubers ini ingin membuktikan pada dirinya sendiri, bahwa dia berbakat untuk menjadi kreator sinema.

“Sejak awal ketika masih jadi pemain doang, saya udah kepengin bikin film sendiri. Tapi saya ragu-ragu dan kurang pede. Tapi ingat kejadian tiga tahun lalu, saya keduluan temen, YoTubers Jovial da Lopez, yang menggarap film Youtubers The Movie (2015) karena saya terlalu banyak pertimbangan dan berpikir, “ tuturnya.

“Saya ngga mau kecolongan lagi, tawaran untuk bikin film layar lebar saya sanggupi dari produser,” tekad Bayu.

Dia mencari teman tandem, yaitu Fajar Nugros untuk menyutradarai film Yowis Ben yang akan diputar mulai Kamis (22/2) besok. “Film ini saya kerjakan mulai pertengahan tahun 2016 hingga Agustus lalu. Saya berkali-kali merevisi draf skenario, persis kayak mahasiwa lagi nyusun skripsi,” tuturnya.

Meski cerita filmnya berdasar pengalaman pribadinya saat masih menjadi pelajar, tapi Bayu mengaku tetap berhati-hati dan selektif dalam menyusun skenarionya.

“Film ini saya bikin unik, fresh, sesuatu yang baru. Tentang persahabatan, hubungan ke orangtua, pertemanan, pacar. Jadi bukan sekadar lucu-lucuan aja,” ungkap Bayu.
Film Yowis Ben mengisahkan Bayu (Bayu Skak) yang menyukai Susan (Cut Meyriska). Namun Bayu tidak percaya diri.

Untuk mendapatkan perhatian Susan, Bayu membentuk band musik bersama tiga temannya yang diperani oleh Joshua Suherman, Tutus Thomson dan Brandon Salim. Padahal, Susan sebetulnya sudah punya pacar yang diperankan oleh Indra Wijaya.

Selain itu ada Glence Chysara, Aliyah Faizah, Devina Aureel, Arief Didu, Tri Yudiman, Richard Oh, Erick Strada, Ria Ricis, Erix Soekamti, Sandy Pas band, Tretan Muslim, Billy Boedjanger, Cak Kartolo, Cak Sapari, dll.

Tentang penggunaan bahasa Jawa hampir 80 persen dalam filmnya itu, Bayu menegaskan hanya ingin menyampaikan keberagaman sebagai kekayaan Indonesia.
“Saya lahir dan besar di Malang. Saya ingin berkarya sesuatu hal tentang tanah kelahiran saya,” terang Bayu.

Tidak sedikit yang berkomentar negatif tentang penggunaan bahasa Jawa tersebut.
“Perlu sebulan saya memikirkan komentar sinis, pedas dan tidak baik itu. Saya tidak masalah dianggap goblok, tapi jangan Jawa. Lantas saya bikin video dan intinya menjelaskan dan menghimbau bahwa kita jangan sampai lupakan budaya,” urainya. (ali/d)

Let's block ads! (Why?)