Rabu, 28 Februari 2018

Anjar Asmara, Penyiar Radio Ngetop Jadi Engkong

KONG JAING adalah sosok yang ditunggu di panggung pecinta radio RDI setiap akhir pekan. Dia terkenal karena celotehan dan banyolannya. Panggung hiburan hampa tanpa pemunculan sosoknya.
Meski sosoknya engkong-engkong (kakek kakek) tapi fansnya kebanyakan ibu ibu dan kaum remaja belia.

“Aneh sebenarnya, pakai tokoh Engkong malah ngetop, padahal kalau aslinya mah susah dikenal, “ kata pemilik nama Anjar Asmara ini.

Anjar terjun ke dunia radio sejak 1990-an dan bertahan hingga kini. Dia sempat terjun ke media cetak dengan bergabung ke majalah ‘Film’ (Pos Kota Grup), sambil terus nyambi siaran radio.

“Saya pindah pindah studio, karena kadang program yang saya bawakan mendadak diubah dan tak sesuai dengan segmen pasar yang diinginkan manajemen radio, “ ucapnya.

Sudah beberapa tahun terakhir dia menetap di radio swasta itu. Dulunya RDI merupakan singkatan Radio Dangdut Indonesia, kini jadi RDI saja. Karena tidak membidik penggemar dangdut semata. “Semua aliran musik diputar. Tapi segmennya memeng menengah ke bawah, “ tuturnya.

Di usianya yang ke-55 dia masih bersemangat siaran dan manggung. Penggemarnya banyak. Dia mengeluh, sulit mencari teman yang seumur di radio.

“Saya bersaing dan siaran bareng anak anak muda, “ kata Anjar alias Kong Jaing dalam obrolan ‘Pos Kota’ kemarin.

Teman lamanya yang siaran adalah Didin Bagito, sesama penyiar di radio swasta itu, sedangkan Unang Bagito siaran di radio lain. “Dulu Miing juga siaran. Tapi sejak berpolitik, dia sudah nggak main radio lagi, “ jelasnya.

Sejak dulu kala, dunia radio mencandu di hatinya dan radio juga memiliki segmen penggemar yang tak pernah habis. “Seperti media cetak, radio juga kena imbas dunia medsos. Tapi kami lebih lentur, karena bagaimana pun radio dibutuhkan. Misalnya, dengar radio sambil ngatasi lalu lintas yang macet di Jakarta ini, “ ujarnya.

SOAL FANS

Ngomong ngomong soal fans yang biasa dimiliki penyiar radio dan juga bintang panggung, Anjar ‘Kong Jaing’ mengakuinya. “Dibandingkan waktu jadi wartawan, fans radio lebih gila, “ sambungnya, sembari terkekeh.

Tapi Anjar Kong Ja’ing mengaku “sudah melewati berbagai ujian”nya, karena anak-anaknya di rumah membutuhkan perhatiannya. “Anak saya ada yang masih kuliah, ada yang masih di SD. Kalau meladeni penggemar nggak ada habisnya, “ terang warga Sawangan, Depok ini.

Nama Kong Jaing mulanya merupakan olok olok, dari bahasa gaul era 1990-an. “Nama itu saya bawa terus sejak di radio SPFM, dulu, “ katanya. “Saya pernah dilarang pakai nama itu, soalnya kalau dibalik itu kasar artinya, “ katanya.

“Waktu itu ‘kan populer istilah yang dibalik balik, bahasa ‘slang’ istilahnya. Misalnya sepatu jadi ‘sepokat’, bini jadi ‘bokin’. Nah, Ja’ing itu artinya…” katanya tak melanjutkannya dengan tawa.

Penyiar yang menempuh pendidikan di IKIP Jakarta ini lupa kampung halamannya di Padang. “Dari usia tiga tahun saya di Jakarta. Orangtua pisah dan lama hidup mandiri. Sebagai orang padang saya nggak diaku, “ selorohnya.

Dia menyatakan, akan terus siaran di radio dan manggung sampai tak dibutuhkan oleh penggemar dan penontonnya. “Siaran sampai jadi Engkong beneran, “ pungkasnya dengan terkekeh. (dimas/st)

Let's block ads! (Why?)