Minggu, 01 April 2018

Malubi Luncurkan Novel Religi ‘Napas Napas Cinta’

JAKARTA – Lagi pengarang asal Sumatera Utara kembali menggebrak sastra nasional lewat novel berjudul ‘Napas-Napas Cinta’ karya Malubi. Novel setebal 116 halaman ini ditulis oleh anak Teater Imago Medan.

H. Mahyuddin Lubis, demikian nama asli penulis yang sering memberikan ceramah dengan sentuhan religi Islami Deli Serdang, Sumatera Utara ini lebih menyukai nama Malubi sebagai nama penanya.

“Novel ini cukup memberikan inspirasi. Tidak saja masalah roman, tapi juga ada sentuhan religi di dalamnya,” kata ustad yang terbilang ramah ini, Minggu (1/4/2018).

Malubi berharap, lewat novel ‘Napas Napas Cinta’ bisa memberikan sumbangan kepada dunia sastra khsusunya Sumatera Utara dan umumnya Indonesia ini.

“Semoga saja karya saya ini bisa menggairahkan kembali sastra di Sumatera Utara yang pada jamannya memiliki segudang sastrawan,” harapnya.

malubi

Novel ‘Napas Napas Cinta’ ini diterbitkan oleh Probi Media, Jawa Tengah. Novel ‘Napas-Napas Cinta’ adalah sebuah novel religi, dengan mengambil seting kota Medan, Jogja, dan Makkah.

Prihatin teman sekolah Yulia semasa SMA di Jogja, ketemu di Medan saat prihatin menunggu hujan reda, pertemuan itu semakin akrab, Prihatin menuturkan cobaan yang ia terima dengan terbakarnya toko batiknya dan meninggalnya istri dan anaknya.

Rasa kasihan Yulia timbul dan pada akhirnya berubah menjadi rasa cinta. Tapi Prihatin tak membuka jalan, karena ia sudah mengambil jalan lain, hidup di jalan dakwah. Ia sedang memfokuskan pikirannya pada cinta dengan khalik. Upaya pendekatan yang dilakukan Yulia membal, sampai-sampai Yulia sakit.

Dan tiba musim haji, Prihatin melaksanakan Rukun Islam ke lima itu, tapi betapa terperanjat ia saat melihat Yulia yang begitu sempurna bagai bidadari, terbang bersama para malaikat, dengan taburan wewangian, dan saat itu betapa tertariknya ia pada Yulia, hingga ia nekat menerobos jamaah, berlari mengejar rombongan pemikul mayat.

Langkahnya dihambat petugas, dan sejak itulah kondisi kesehatannya melemah, dan akhirnya, Prihatin pun meninggal dunia saat puncak haji wukuf di Padang Arafah, sehabis ia menghatamkan Al Quran.

Sekelumit doa terakhirnya: “Tuhan/ jangan Kau biarkan aku dahaga dirundung duka sengsara/ di rumahMu tanah haram tanah terjaga/ kalaupun sampai waktuku/ ku mohon persatukan aku dan dia di surga-Mu. Tuhan/ betapa aku kehilangan dia/ senyumnya hadir menahta maluku.
(rizal/sir)

Let's block ads! (Why?)