JAKARTA – Sebuah film pendek ‘Toko Musik’ yang merupakan hasil proyek dari komunitas Pamflet bersama Gerkatin Kepemudaan (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia Kepemudaan) dan Sedap Films, dalam program Ini Cerita Kita, menceritakan tentang seorang tuna rungu yang bekerja di toko musik. Akbar Restu Fauzi koordinator movement Pamflet berharap dengan diputarnya film pendek ini dapat menginspirasi para tuna rungu muda.
Akbar menjelaskan roadshow film ini menyasarkan target kepada para anak muda tuli atau tuna rungu. Ia dan timnya berharap agara teman-teman tuli di luar sana mampu bersaing dengan yang lainnya dan lebih merasa percaya diri. Sedangkan untuk mereka yang tidak mengalami gangguan pendengaran, ia berharap agar tidak ada diskriminasi sosial, karena yang berbeda antara tuna rungu dan yang mendengar adalah komunikasi saja.
“Kalau untuk orang-orang dengar itu ya kalau berhadapan sama yang tuli biasa saja, karena tetap bisa komunikasi kok. Walaupun tertatih sedikit tapi kan bisa lewat oral, atau tulisan. Intinya adalah mereka ga berbeda sama kita,” ujar Akbar setelah roadshow film ‘Toki Musik’ selesai, pada Senin (30/4/2018) di SLBN 5 Jakarta, Slipi, Jakarta Barat.
Ia menambahkan, SLBN 5 Jakarta ini merupakan tenpat terakhir yang didatangi oleh komunitas Pamflet bersama Gerkatin Kepemudaan (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia Kepemudaan) dan Sedap Films. Sebelumnya mereka sudah melakukan roadshow di SLBN 1 Jakarta Selatan, SLB Budi Daya Jakarta Timur, SLB Pangudi Luhur Jakarta Barat, dan dua komunitas, di antaranya komunitas troto art dan komunitas sang akar. Ia juga mengungkapkan kalau antusias selama roadshow berlangsung itu cukup tinggi.
Film ‘Toko Musik’ menceritakan interaksi antara karyawan toko musik yang tuna rungu dengan seorang yang gemar bermaik musik, dan juga bagaimana relasi kerja antara tuna rungu dengan pemberi kerja, yang sering kali yang tuna rungu ini mendapat hal-hal yang tidak mengenakan. Menurut Akbar, dalam pembuatan film pendek ini tidak ada kriteria khusus yang dipilih untuk direkrut menjadi bagian film pendek tersebut.
“Ga ada kriteria khusus tapi sutradara yang kita pilih memang belum pernah berhubungan dengan teman-teman yang tuli. Jadi mereka belajar dari awal, meriset, bagaimana cara komunikasi kayak gitu,” tambahnya.
Sedangkan pemain untuk karyawan yang tuna rungu memang sengaja dipilih yang mengalami gangguan pendengaran tersebut. Karena menurutnya, selama ini film-film di Indonesia menayangkan yang memiliki peran tuna rungu tapi pemerannya sendiri bukan orang yang memiliki gangguan pendengaran tersebut.
Ia pun menjelaskan selama proses pembuatan film pun tidak ada kendala yang terlalu berarti. Hanya kendala pada korektor bahasa isyarat saja.
“Ga ada kesulitan berarti karena mufi sangat cepat beradaptasi. Tapi kita sempat kesulitan berbicara bahasa isyaratnya karena bahasa isyarat agak rumit. Kita kesulitan mencari korektor. Jadi kita kesulitan di korektor bahasa isyarat,” pungkasnya.
Pamflet bersama Gerkatin Kepemudaan (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia Kepemudaan) dan Sedap Films, membuat sebuah program Ini Cerita Kita. Terdapat empat aktivitas utama yaitu workshop vlog, pembuatan film, pembuatan situs web, dan roadshow film. Program ini bertujuan memperkuat kapasitas anak muda tuli untuk mengekspresikan diri sendiri, serta mengenalkan isu anak muda tuli ke publik.
(cw2/sir)