Sabtu, 14 April 2018

Ini Pelajaran Hidup dari Cerita Wayang Dalang Ki Gunarto di Monas

JAKARTA – Alkisah yang dibawakan oleh dalang Ki Gunarto Gunotalijendro dalam pegelaran wayang kulit di silang Monas Jakarta, Sabtu malam (14/4/2018) memberikan suatu pelajaran luhur kepada manusia bahwasahnya sebuah ilmu harus dipertanggung jawabkan kegunaannya.
Cerita dengan tema pusaka “Poncosonyo Wreksaning Bumi” yang diangkat oleh sang dalang untuk merayakan HUT ke-48 Pos Kota, ternyata suatu pusaka yang dapat menjadi melapetaka jika jatuh ke tangan orang yang salah.
Awalnya diceritakan bahwa sebelum masa Ramayana hidup pohon yang konon terpental dari surga. Pohon tersebut bernama pohon Kastubo. Karena merasa tak mendapat keadilan ia menuntut ke para dewa di kahyangan untuk dikembalikan ke surga.

Namun pil pahit harus diterimannya, ia tidak diizinkan untuk kembali ke surga tempat dulu ia hidup. Melihat kenyataan tersebut sang pohon Kastubo akhirnya memutuskan untuk puasa tak minum air, walaupun terdapat aliran air di depannya. Karena berpuasa sangat lama pohon itu pun akhirnya kering dan layu.

Sampai akhirnya sang Bhatara Guru tak sengaja melintas di atasnya saat membawa pusaka nan hebat “Kembang Wijaya Kusama”.

Seketika pohon kastubo yang awalnya kering berubah menjadi raksasa yang dipimpin oleh Prabu Getah Banjaran dan Banjaran Pati.

Karena masih menyimpan dendam karena permintaannya kembali ke surga ditolak akhirnya Prabu Getah Banjaran bersama punggawa raksasanya menyerang kahyangan dan bertempur dengan para dewa.

Karena tak bisa dikalahkan para dewa meminta pertolongan kepada sang monyet suci yang sedang bersemayam di alas wonopringgo yang bernama Resi Subali.
Dengan kesaktinnya, Resi Subali pun akhirnya dapat mengalahkan Prabu Banjaran dan temannya Banjaran Pati.

Karena sudah mengalahkan kedua raksasa sakti tersebut, sukma dari Prabu Getah Banjaran dan Banjaran Pati akhirnya merasuk kedalam diri Resi Subali dan menjelma menjadi pusaka yang sakti mandraguna bernama “Poncosonya Wreksaning Bumi”. yang terdiri dari kekuatan Bumi, Angin, Air, Api dan Atmosfer.

Setelah Rmendapatkan kekuatan sebesar sebesar tersebut Resi Subali pun kembali melanjutkan pertapaannya di alas wonopringgo gunung limawatt.

Kabar kesaktian Resi Subali pun terdengar oleh Dasamuko alias Rahwana dari negeri Amaramurka di zaman Ramayana. Ia segara mencari Resi Subali untuk menantang dan mengadu kesaktian dengan Resi Subali. Dasamuko berharap dengan mengalahkan Resi Subali ia bisa mendapatkan ajian Poncosonyo Wreksaning Bumi. Namun cerita lain didapat Dasamuko yang justru takluk ditangan monyet sakti itu dengan hanya sebuah genggaman tangan. “Ampun njalok ampun aku,”punya Dasamuko kepada Subali.

Karena sudah minta ampun akhirnya Subali pun mengampuninya. Namun Dasamuko tetap ingin memiliki ajian tersebut. Lalu diputuskannya untuk berguru dengan Resi Subali sang kera sakti dari Gunung Lima Watt.

Hari demi hari dilaluinya bersama sang guru Resi Subali, saking dekatnya ia pun akhirnya meminta langsung ajian Poncosonyo Wreksaning Bumi kepada Subali. Karena hal itu akhirnya sang guru pun memberi tantangan kepada Dasamuko untuk mengejarnya naik ke Gunung Lima Watt, salip menyalip bagaikan atraksi motor GP pun berlangsung antara Dasamuko dengan Resi Subali, sampai akhirnya Dasamuku berhasil menunaikan tantangan tersebut.

Namun ia tak kuat menerima pusaka Poncosonyo Wreksaning Bumi yang sangat besar kekuatannya tersebut, sehingga membuat ia pingsan tak sadarkan diri, namun ia tetap berhasil mendapatkan pusaka mahasakti tersebut.

Walaupun ia sudah memiliki kekuatan sekaliber Poncosonyo Wreksaning Bumi tersebut karena tak digunakan secara bijak, nasib naas pun menderanya, ia mati ditangan titisan Wisnu sang Prabu Rama, dan roh nya bersemayam di Gunung Ngrungrungan.

Cerita pun berlanjut sampai memasuki zaman Mahabharata, pada zaman ini terdapat seorang pemuda yang haus akan kesaktian bernama Prabu Manthoro dari negeri Suryoteleng. Ia diberi tahu oleh Togog bahwa terdapat pusaka yang amat sakti yang terdapat di Gunung Ngrungrungan, namun untuk mendapatkan senjata pusaka tersebut Togog memberi tahu kepada Prabu Manthoro untuk membawa sesaji berupa arak untuk memancing roh Dasamuko keluar dari persemayamannya.

Lalu pergi lah iya ke Gunung Ngrungrungan dengan membawa sesaji yang telah disiapkan.

Sesampainya di Gunung Ngrungrungan, Roh dari Dasamuko pun keluar dan perkelahian sengit keduanya pun terjadi. Melihat keadaannya tak imbang Prabu Manthoro segera mengutarakan keinginannya untuk meminta pusaka Poncosonyo Wreksaning Bumi yang Dasamuko miliki. Dasamuko pun memberi pusaka tersebut kepada Prabu Manthoro dengan syarat harus membunuh titisan Wisnu yang telah membunuhnya dimasa Ramayana.

Kresna sang titisan Wisnu lah yang menjadi target selanjutnya, Prabu Manthoro pun segera menuju Dwaraka/Ndorowati tempat dimana Kresna hidup. Namun belum juga ia bertempur dengan Kresna, Prabu Manthoro harus tamat hidupnya ditangan pemuda bernama Sutejo, yang merupakan anak dari Kresna, diutus untuk menghadapi Prabu Manthoro.

Atas keberhasilannya membunuh Prabu Manthoro, Raden Sutejo pun mendapatkan Pusaka Poncosonyo Wreksaning Bumi milik Prabu Manthoro.

Namun pusaka ini pun kembali memberi pengaruh buruk bagi pemiliknya.
Saat mendengar perselingkuhan istrinya yang bernama Dewi Hagnyonowati dengan adiknya Sombo, Sutejo pun naik pitam dan ingin membunuh Sombo

Perkelahian keduanya pun tak terelakan, karena memiliki kekuatan Poncosonyo Wreksaning Bumi, Sutejo mampu mengalahkan Sombo dengan mudahnya.

Namun hal itu membuat Kresna marah, dan ingin memusnahkan pusaka Poncosonyo Wreksaning Bumi yang telah membuat gaduh keluarganya dan kerajaaanya, dan memutuskan untuk membunuh Sutejo yang merupakan anaknya dengan cara digantung tidak menyentuh tanah agar tak kembali hidup.
Belajar dari pesan yang tersirat dari cerita “Poncosonyo Wreksaning Bumi”, dalang Ki Gunarto Gunotalijendro berpesan bahwa suatu ilmu harus dijaga secara amanah dan penuh rasa tanggung jawab agar ilmu yang telah diberi yang kuasa tak membawa kesengsaraan bagi manusia lainnya.

Lebih jauh, Ki Gunarto Gunotalijendro menjelaskan, manusia harus berhati-hati dengan apa yang telah diperbuatnya agar tak menuai penyesalan dikehidupan selanjutnya.(cw4).

Let's block ads! (Why?)