Kamis, 21 September 2017

7 Kerbau Kyai Slamet Ikut Kirab Pusaka Kraton

SETIAP malam tanggal 1 Muharam atau awal Tahun Baru Hijriah, kerbau Kyai Slamet dari Kraton Surakarta pasti ikut ambil bagian dalam Kirab Pusaka Kraton. Tapi karena kirab pusaka itu tahun ini dimundurkan jadi tanggal 1 Suro malam, kerbau Kyai Slamet pun baru keluar bersama pusaka Kraton Surakarta tadi malam.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kirab pusaka Kraton Surakarta dan Yogyakarta menyambut tahun 1439 H memilih tanggal 21 September malam, bukan malam 21 September. Hanya Kadipaten Mangkunegaran yang tetap menggelar acara itu tetap pada malam 1 Muharam atau 1 Suro menurut istilah orang Jawa.

Kirab pusaka yang digelar Kamis itu ada kejutan sebagaimana yang dijanjikan Sinuwun Paku Buwono XIII. Setidaknya lebih banyak pusaka Kraton yang dikirab keluar. Mungkin Ingkang Wicaksana Sinuwun Paku Buwono Kaping XIII ingin menunjukkan bahwa pusaka Kraton Kasunanan masih lengkap. Sebab isyu di luaran menyebutkan, pusaka Kraton banyak yang tinggal duplikat karena diperjual-belikan.

Yang paling banyak menarik warga Surakarta dan sekitarnya termasuk para turis, adalah hadirnya kerbau bule Kyai Slamet yang sekarang tinggal berjumlah 7 ekor tersebut. Setiap malam 1 Sura dia dengan setia dan ikut berjalan pelan di depan arak-arakan pusaka Kraton.

Kyai Slamet adalah kerbau keturunan dari sejak jaman Paku Buwono II. Kerbau itu semacam “gratifikasi” atau oleh-oleh dari Adipati Ponorogo, ketika Ingkang Sinuwun Mas Garendi (PB II) keplayu (mengungsi) gara-gara Kraton Kartosura hancur akibat pemberontakan orang Cina yang biasa disebut Geger Pecinan. Pemberontakan itu sendiri berawal dari Batavia tahun 1740, tapi kemudian merembet ke Kartosura 30 Juni 1742, meski kala itu belum ada medsos ujaran kebencian.

Warga kota Surakarta sangat menghormati kerbau Kraton yang kini tinggal 7 ekor itu. Ke mana saja mereka pergi, tak ada yang berani mengusiknya. Bahkan tlethong atau kotorannya ada juga yang memanfaatkan untuk pilis, dioleskan ke jidat sebagai obat. Para bakul penjual di pasar, takkan mengusir kerbau-kerbau itu ketika memakan dagangan mereka. Bahkan kerbau Kyai Slamet ini juga doyan blanggreng (singkong goreng).

Paling unik, kerbau ini bisa bebas lepas ke mana saja. Berjalan tanpa juntrung sampai ke Sragen, Karanganyar, Boyolali maupun Klaten tanpa lelah tanpa ingin naik angkot. Anehnya, ketika menjelang 1 Suro kerbau itu biasa kembali komplit di pangkalan atau kandangnya. -slontrot

Let's block ads! (Why?)