Kamis, 10 Agustus 2017

Mata Najwa Menurut Najwa Shihab

JAKARTA (Pos Kota) – Menjadi seorang presenter dengan acara yang selalu ditunggu pemirsa dan menghadirkan narasumber dari kalangan yang tidak biasa, bukanlah hal yang mudah dan menjadi tantangan tersendiri. Hal itu lah yang selama ini dirasakan oleh Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa yang membesarkan namanya.

Najwa menyebutkan bahwa begitu banyak kenangan baik suka maupun duka yang ia peroleh selama sembilan tahun menjadi presenter Mata Najwa sejak 25 November 2009 silam.

“Banyak sekali (suka duka). Ga beda jauh sama suka duka temen-temen di lapangan (wartawan-Red). Bagaimana kejar narsum (nara sumber), bagaimana ciptakan show yang menarik tapi berisi, bagaimana bisa dapat eksklusif, wawancara narsum A1,” katanya saat ditemui dalam acara Launching Pojok Buku Polda Metro Jaya di Satpas SIM Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis, (10/7/2017).

Seperti diketahui acara Mata Najwa tidak hanya disiarkan langsung dari studio Metro TV melainkan di beberapa daerah.Bahkan tidak jarang di lapangan terbuka dengan ribuan penonton. Hal itu menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi Najwa bahkan selalu membuatnya kembali merinding ketika mengingatnya.

Diantaranya ketika Mata Najwa berkunjung ke Jember, Jawa Timur, yang sampai mendapat rekor Muri karena dihadiri oleh 35 ribu orang penonton. Begitu juga ketika hadir di Batu Malang, Jawa Timur, yang juga mendapat rekor Muri.

“Tidak pernah terbayangkan ada talkshow di lapangan bola, Batu (Malang) dibikin di lapangan bola, merinding rasanya puluhan ribuan orang berkumpul untuk dengerin orang bicara situasi negeri dan yang dateng anak muda. Itu adalah momen tim Mata Najwa yang berkesan dan tentu peristiwa politik,” ucapnya.

Pengalaman berkesan lainnya, dikatakan Najwa, dimana ketika nara sumber yang dihadirkan adalah kalangan pejabat dan petinggi negara. Mengulas kehidupan orang kecil yang mengispirasi ia sebut juga tidak kalah berkesan.

“Yang terakhir kan kita meliput banyak isu, KPK, DPR, wawancara petinggi istana, tapi wawancara orang kecil yang mempunyai cerita yang luar biasa bukan hanya tentang kisah elit pejabat. Jadi banyak kenangan,” tuturnya.

BEKERJA TIM

Sementara tantangan terberat adalah dimana harus bekerja kompak antara tim Mata Najwa yang mengemas acara menjadi menarik dan enak ketika disajikan ke pemirsa. Mata Najwa ia sebut bukanlah kesuksesan dirinya semata, melainkan tim dibelakang layar yang ia anggap sudah seperti keluarga.

“Kalian pasti tahu kerja jurnalis bukan hanya kerja 1-2 orang tapi kerja tim yang ada di dalamnya. Tim Mata Najwa dari dulu sampe hingga sekarang alhamdulilah selalu solid,” katanya.

Sehingga keputusan untuk hengkang dari acara Mata Najwa dan Metro TV yang telah membesarkan namanya adalah pilihan yang berat bagi putri ulama besar Quraish Shihab itu.

“Salah satu keputusan yang membuat saya begitu berat diambil adalah karena tim Mata Najwa yang seperti keluarga. Metro TV pun 17 tahun itu tempat saya memulai segala sesuatunya. Jadi memang ini keputusan yang sangat sulit untuk saya ambil. Sekali lagi, keluarga walau tak bersama, hatinya tetap sama-sama,” tandasnya menyudahi. (Yendhi)

Let's block ads! (Why?)