Jumat, 25 Agustus 2017

Slamet Ambari, Aktor Baru di Layar Film Indonesia

FILM ‘Turah’, film layar lebar Indonesia, yang menggunakan bahasa Jawa Tegal, melahirkan sosok aktor hebat kaliber nasional. Dialah Slamet Ambari, yang berperan sebagai Jadag. Figur antagonis.

Berlawanan dengan Turah (Ubaidillah), tokoh utama protagonis, yang rajin bekerja, bertanggung-jawab, sabar, punya jiwa sosiawan, sebaliknya Jadag adalah sosok antagonis yang pemalas, penjudi togel, telengas, tukang hasut, menelantarkan keluarga, juga pemabuk berat. Mulutnya kotor pula.

Dengan kelengkapan yang sempurna sebagai “orang brengsek”, Slamet Ambari, 56, tampil leluasa dan main “full power”. Ia terus menerus menguras emosi penonton. Semua pemain seperti memberi umpan bola pada Slamet Ambari, dan Slamet menendangnya dengan jitu.

Sepanjang film, Jadag terus berulah, kalau tidak memaki maki isteri, menghasut tetangga, mencaci maki juragan Darso (Yon Daryono) dia kedapatan teler, mabuk berat. Atau gelisah mengolah kode togel – toto gelap. Jadag iri hati pada Pakel, sarjana yang jadi tangan kanan Darso, lantaran, menurut Jadag, Pakel pintar menjilat. Padahal Jadag sudah bertahun tahun kerja pada Darso dengan upah yang tak kunjung naik. Apalagi jabatannya.

Kepiawaiannya berakting di film layar lebar telah diasah sejak puluhan tahun lalu, di panggung teater. Slamet Ambari lahir di Tegal, 31 Maret 1961. Dia sudah 30 tahun menggeluti teater. Menyandang gelar Aktor Terbaik pada tahun 1989, dan aktor terbaik 2002 di lewat Festival Teater di Surakarta.

Sebelum tampil di ‘Turah’, sebagai film layar lebar perdananya, Slamet main di film pendek Tegalan, Berkah Centong, Sang Juara, Mengukit di Atas Air, Dalim D’Tegal Maritim, dll. Di Youtube dia juga sudah berakting, terutama dalam komedi pendek. Turah merupakan film panjang perdananya.

“Skenario film Turah aslinya ditulis dalam bahasa Indonesia. Di lokasi diolah jadi bahasa Tegal, “ katanya tentang film yang seluruhnya berbahasa Jawa Tegal ini. “Karena kampung Tirang aslinya bahasa Tegal, mengapa tidak pakai bahasa Tegal saja, biar lebih bernyawa, “ usulnya kepada sang sutradara, Wicaksono Wisnu Nugroho, saat masih tahap reading (pembacaan naskah).

Film ‘Turah’ tayang perdana di Singapore International Film Festival 2016, dan memenangi gelar ‘Special Mention’. Tahun 2016 juga menyabet dua kategori: Geber Award dan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival.

‘Turah’ sudah menjadi pergunjingan pengamat dan kajian di komunitas komunitas film serta pusat pusat kebudayaan, sebelum tanyang di bioskop sejak 16 Agustus lalu.
Di Tegal masih tayang hingga kini. – dimas.

Let's block ads! (Why?)