TAK BANYAK penyanyi legendaris Indonesia seperti Ernie Djohan. Pada usianya yang sudah melewati 60 – tepatnya 66 tahun – pelantun lagu ‘Teluk Bayur’ ini masih enerjik. Dia juga bergairah jika diminta bercerita tentang apa saja. Mungkin karena sudah kenyang makan asam kehidupan.
Terakhir masih minikonser di Bandung, menandai peresmian resto merangkap galery sahabatnya, dan ikut tampil di atas Konser Aku Indonesia di TVRI Indonesia, beberapa hari lalu, Ernie Djohan ingin terus menyanyi selagi dia masih bisa menyanyi dan dinantikan pendengarnya.
“Sekarang saya hanya bersyukur. Segala macam suka duka sebagai artis saya rasakan. Tapi di atas semua, saya bersyukur, “ katanya kepada Pos Kota, pekan lalu. Dia mendalami dan menghayati agama dan mencintai kehidupan. “Saking cintanya pada kehidupan saya sering ngobrol sama hewan dan tanaman di rumah, “ katanya, sembari tertawa.
Perjalanan musik dan panggungnya yang ditekuni sejak 1962 – yang terus berlangsung hingga kini – memang tak sepenuhnya dihiasi tawa. Dia juga melewati desingan peluru dan lemparan batu, juga kecelakaan fatal. Beberapa kali masuk rumah sakit dan dioperasi. Bahkan juga sempat diberitakan meninggal. “Alhamdulillah saya panjang umur, “ katanya.
Tentang desingan peluru dan lemparan batu yang dirasainya, dia mengenangkan ketika bersama grup Koes Plus dan artis lain, ke Timor Timur sebelum negeri itu bergabung dengan Indonesia. “Situasi masih nggak aman di sana. Bus yang kami tumpangi, rombongan artis Jakarta, ditembaki dan dilempari batu sama mereka yang menentang kehadiran pemerintah Indonesia. Untung semua penumpangnya selamat, “ kenangnya.
“Tahun 2007 saya hampir mati beneran. Waktu itu pulang mengisi acara kampanye Usman Sapta di Malawi, Kalimantan Selatan, mobil yang saya tumpangi terbalik. Untungnya saya selamat, hanya luka kecil,” tambahnya.
Terlahir dan dibesarkan sebagai putri diplomat, M Djohan Bakhaharudin, yang pernah bermukim di Den Haag, Belanda dan Singapura, pada usia 11 tahun ia sudah bernyanyi untuk Radio Talentime 1962 di Singapura.
Bersama sama Lilies Suryani, Ernie Djohan salahsatu penyanyi pop kesayangan Presiden Soekarno. Kala itu Ernie sering diundang menyanyi untuk menghibur para diplomat asing di kediaman RE. Martadinata di Jalan Diponegoro (sekarang jadi Wisma Elang).
Ernie Djohan yang menjuarai All Singapore’s School Talentime, merupakan artis Indonesia yang rekaman di Phillips Recording Company di Singapura.
Selain Teluk Bayur, lagu yang sangat di kenang sepanjang masa di era tahun 1970-an Kau Selalu di Hatiku dan Mutiara yang Hilang.
Tapi dalam perjalanan karir panggungnya, Ernie bukan penyanyi yang syur dengan lagu lagunya sendiri. Dia juga banyak menyanyikan lagu lagu asing, internasional, lagu Barat, Mandarin, bahkan lagu khas Afrika. “Waktu ikut muhibah ke Afrika Selatan saya bawakan lagu Afrika dan penonton kaget. Kok bisa? Tanya mereka, “ katanya.
Tak sekadar berdendang, artis kelahiran 6 April 1951 ini pun juga berakting di sejumlah film, antara lain Belaian Kasih (1966), Honey, Money And Djakarta Air (1970), SI Mamad (1974), Atheis (1974), Tiga Sekawan (1975), Sebelum Usia 17 (1975), Ateng Kaya Mendadak (1975) dan Ateng Sok Tahu (1976).
Artis yang disebut sebut Brenda Lee-nya Indonesia ini pada era 1970-an dan 1980-an, menjadi jaminan dari kesuksesan album pop. Saat itu, lagu ‘Kau Selalu di Hatiku’, ‘Senja di Batas Kota’ dan yang lainnya, masih familiar di telinga kita, sampai sekarang, dan membuat nama Ernie Djohan identik dengan lagu itu.
Ernie Djohan pun terus menyanyi. Bukan hanya di dalam negeri melainkan di luar negeri. “Kalau di TVRI, saya memang sudah jarang muncul, tapi Singapura, Malaysia dan Brunei masih mengundang saya menyanyi,” tambah wanita yang masih tetap awet muda dan cantik ini.
Penyanyi berdarah Minang, mengakui, cucu-cucunya kerap melarangnya menyanyi lagi, namun dia tak bisa meninggalkan dunia nyanyi yang sudah puluhan tahun digelutinya itu.
“Ini memang bukan era saya lagi. Tapi di sisa hidup ini saya ingin tetap menghibur. Dan jika melihat sambutannya, setiap saya nyanyi, penggemar pun masih rindu,” ujar Ernie yang sudah delapan kali menjalani operasi dari sakit yang dideritanya. – dimas