Sabtu, 17 Maret 2018

Tiga Orang Tahanan Diseret dari Penjara Bawah Tanah di Kota Tua

JAKARTA – Ada yang menarik di Kota Tua, Jakarta Barat, Sabtu (17/3) siang.  Dua orang berjubah hitam lengkap dengan senjata api dan 3 orang yang menjadi tahanan, diseret dari arah penjara bawah tanah.

Ternyata ini merupakan pementasan drama dari Bengkel Teater Kita, tentang rekontruksi sejarah persidangan jaman Pemerintahan Belanda, Jan Pieterzoon Coen.

“Dalam kesempatan kali ini kita membawakan judul tentang persidangan di jaman kolonial Belanda di Batavia,” ujar Agus Marmo, sutradara sekaligus penulis skenario Bengkel Teater Kita ketika ditemu tim poskotanews.com pada Sabtu (17/3/2018) di Kawasan Kota Tua.

 Agus Marmo, sutradara sekaligus penulis skenario. (cw3)

 Agus Marmo, sutradara sekaligus penulis skenario. (cw3)

Ia mengungkapkan, pertunjukan seperti ini bukan yang pertama. Proyek rekontruksi sejarah sudah ditampilkan sejak 2012 silam. Namun sempat vakum tahun 2014 dan baru kembali aktif Maret 2018 ini. Tidak hanya tentang pengadilan Jaman Kolonial Belanda saja, namun beberapa judul lainnya.

“Dari Bengkel Teater Kita, spesialis untuk mementaskan rekontruksi sejarah. Dari 2012 kita sudah mentas di sini, di antaranya si pitung, kemudian sultan agung, jaman pemerintahan Jan Pieterzoon Coen. Setelah 2014 kita vakum, kita berjalan lagi nih,” terang pria 47 tahun ini.

Ia mengatakan, ada sekitar 25 anggota yang bergabung dalam bengkel teater ini. Namun untuk pementasan kali ini, hanya 18 saja yang ikut tampil. Dikarenakan kesibukkan masing-masing. Para pemain yang tampil di rekontruksi sejarah ini merupakan pilihan. Mereka adalah pekerja seni yang sudah biasa bermain teater.

“Anggota yang sekarang main ada 18. Dan kebetulan memang ada yang berapa lagi yang sibuk. Sebenarnya ada sekitar 25 cuman mereka pada sibuk. Jadi bukan biasa main teater saja namun juga pekerja seni,” tutur Agus.

Ia mengaku ketika 2014 lalu divakumkan proyek rekontruksi sejarah ini, ia tidak terlalu paham apa permasalahannya. Namun setelah setahun membuat rencana dengan Museum Sejarah Jakarta untuk mengaktifkan proyek ini lagi, akhirnya Maret ini terealisasi.

“Itu karena pemerintah. Saya ga tau kenapa, yang jelas tahun 2014 itu, setelah 2014 kita vakum. Dan sekarang mulai dijalankan lagi, diaktifkan lagi untuk para sanggar-sanggar. Kebetulan disetujui, dibuat anggaran, disetujui, ya sudah.”

Setiap bulannya, pertunjukkan teater tentang rekrontuksi sejarah ini berbeda-beda. Tidak hanya membahas satu tema saja, tetapi beragam. Pertunjukannya pun diadakan setiap hari sabtu dan minggu.

“Kita setiap sabtu minggu. Kita nanti di bulan April judulnya beda. Untuk april kita judulnya tentang Diponegoro, perjuangan Diponegoro saat dia berada di museum sejarah Jakarta sebelum dia masuk ke pengasingan,” jelas sutradara Bengkel Teater Kita ini.

Ia mengaku mencari referensi untuk menulis naskah teater dari google. Ia juga tetap melakukan riset kecil-kecilan untuk cerita yang akan dipentaskannya. Menurutnya, menulis dan bermain teater sejarah seperti ini bukan lah hal mudah.

“Kalau dibilang kesusahan, amat susah ya. Karena kita mementaskan yang memang real, sejarah. Kita benar-benar harus tahu dulu jangan sampai nanti yang kita pentaskan orang tau kita jadi salah. Kita menjaga itu,” ungkap Agus.

Karena itu referensi bacaan sangat perlu serta mengkaji tulisan berulang kali. Agar sejarah tersebut tidak bergeser kisahnya. “Saya juga menulis naskah sinetron, itu kan khayalan, kalau ini kan benar-benar ada, real. Itu yang sulit. Jadi kita ga bisa sekali nulis jadi (selesai). Kita harus kaji lagi, liat lagi, baca lagi.”

Ia menambahkan, teater ini latihan untuk pementasan setiap sabtu dan minggu selama sebulan. Latihannya pun di pelataran kawasan Museum Sejarah Jakarta. Agus mengakui ketika sedang berlatihan pun sering kali menjadi tontonan para pengunjung.

“Kita latihan tiap sabtu dan minggu. Bisa dibilang sekitar 8 kali latihan. Tergantung kesiapan, kalau saya rasa teman-teman sudah siap ya sudah. Kalau saya rasa perlu, jumat ditambah. Kita latihan di depan, di pelataran. Jadi ya kalau latihan ditonton orang-orang juga, jadi mental mereka juga sudah kuat. Sudah biasa ditonton, ga malu-malu lagi,” pungkas Agus. (cw2/win)

Let's block ads! (Why?)