JAKARTA – Melakukan pentas teater rekontruksi sejarah ternyata banyak suka dukanya. Ada hal unik yang terjadi ketika pementasan berlangsung. Sutradara sekaligus penulis skenario Bengkel Teater Kita, Agus Marmo, mengaku salah seorang pemainnya pernah ‘disawer’ oleh seorang ibu-ibu.
“Yang menarik waktu itu ada satu adegan di penjara bawah tanah, terus ada yang disiksa ceritanya. Itu ada ibu-ibu nonton, dia katanya pernah ngalamin (jaman itu). Jadi mungkin ngerasain, jadinya dia nyawer, ngasih duit 50 ribu,” cerita Agus ketika ditemui Poskotanews.com di Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.
Ia menuturkan, saat itu wanita setengah baya itu mengatakan agar dihentikan siksaan kepada pemain yang menjadi pribumi. Sebagai gantinya ia memberikan uang sebesar Rp. 50.000.
“Katanya, sudah sudah dong, kasian. Di atas juga begitu dapat lagi,” ujarnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, melakukan teater tentang rekontruksi sejarah seperti ini menyenangkan karena bisa berbaur dengan para pengunjung dan berinteraksi langsung. Terlebih ketika ada pengunjung yang minta berfoto bersama.
“Nah kesenangannya itu ketika para pengunjung minta foto. Nah itu kesenangan tersendiri,” seru pria 47 tahun ini.
Ia menjelaskan, yang membedakan pementasan teaternya dengan yang lain karena mereka tidak hanya beradu peran di satu tempat atau panggung saja. Namun berpindah-pindah tempat sesuai dengan kebutuhan latar tempatnya. Hal ini pula yang menarik minat dan antusias pengunjung untuk menyaksikan rekontruksi sejarah ini.
“Uniknya pertunjukan di teater kita, pertama kita menggunakan stage yang banyak. Kalau perunjukan teater di satu panggung saja. Kalau kita kan ga. Kita mulai dari penjara bawah tanah, terus berjalan, terus di lantai 1 berjalan juga, lantai 2 berjalan. Ini yang membuat senang. Karena para pengunjung ingin tahu, dari penjara bawah tanah ada adegan kekerasan, mereka lari buru-buru (mengikuti) ke tempat lainnya,” jelas sutradara dan penulis skenario Bengkel Teater Kita ini.
Menurutnya, teater lain tidak ada interaksi langsung dengan para penontonnya, lain halnya dengan konsep teater yang mereka terapkan. Penonton atau pengunjung merupakan bagian dari cerita yang disajikan.
“Kita menciptakan mereka bagian dari rangkaian cerita yang akan kita sampaikan,” ujar Agus.
Teater tentang rekontruksi sejarah ini merupakan kerja sama antara Museum Sejarah Jakarta dan Bengkel Teater Kita. Di mana bertujuan agar teater kembali aktif dan hidup.
Proyek rekontruksi sejarah ini mulai kembali aktif pada 10-11 maret tahun ini. Namun proyek hanya berlangsung selama tiga bulan yaitu sampai Mei 2018 saja. Tetapi rencananya, proyek ini akan ada lagi tahun 2019.
“Kalau ini kan baru ya aktif lagi. Planningnya sih sudah dari setahun lalu, kita programkan, dari pihak museum baru berjalan lagi minggu kemarin. Rencananya akan ada lagi tahun 2019,” tandasnya.
(cw2/sir)