Senin, 14 Agustus 2017

Wanita Pebisnis yang Suka Menari

SAAT tampil di panggung, dia lupa segalanya. Dia tak memikirkan 200 karyawannya, sejumlah perusahaan yang dimilikinya dari berbagai jenis usaha. Dia larut dalam perannya sebagai Dewi Kunthi atau Dewi Sumbodro – sosok putri yang kerap diberikan sutradara ke padanya.

“Menari membuat saya gembira, membuat saya merasa jadi bintang panggung, dan saya mendapat kepuasan batin, “ katanya.

Eny Sulistyowati S. Pd. MM, adalah pebisnis sukses yang kembali ke dunia lama, ke dunia tari dan dunia wayang. Dia menjadi “ibu” menjadi “mbok” bagi grup wayang orang Sri Wedari di Solo yang sempat ngos-ngosan, hampir sekarat, dan sekarang hidup lagi, sebelum kemudian diurus oleh Pemkot Surakarta.

“Antara tahun 2007-2008 saya sakit lama sekali, bahkan sempat ditransfusi darah. Nggak jelas sebabnya, sampai dokter menyimpulkan sakit saya psikis, “ kata ibu tiga anak ini. “Dokter minta saya senang-senang saja, jalan jalan, belanja, dan datang lagi. Tapi nggak sembuh juga, “ paparnya.

Sampai kemudian dia menonton pertunjukkan wayang orang dan kemudian dia merasa dunia lamanya kembali. “Mendadak saya pengin naik panggung, menari dan jadi bintang di sana, “ katanya. Saat itu bisnisnya sudah sukses dan dia meninggalkan seni tari yang lama ditekuninya.

Benar saja. Ternyata tari menyembuhkan penyakitnya. Dan dia terus naik panggung setiap ada kesempatan, sampai sekarang. Pendidikan seni yang didapat dari Fakultas Seni Tari dari IKIP Surabaya seakan “hidup” lagi. “Lalu saya tak puas hanya nari, saya mendessign pertunjukan, saya menjadi sponsor, dan mengelilingkan, “ katanya.

Dimulai dari pentas “Ken Dedes” di Gedung Kesenian Jakarta di Pasar Baru, yang kemudian dibawa ke Surabaya, lalu dia ketagihan membuat pertunjukkan lain, “Maha Bandana” (Mahabarata dan Ramayana), dan terakhir di Taman Mini, mengumpulkan para maestro wayang orang. Dia terlibat dalam persiapan Hari tari Sedunia (World Dance Day 2016) juga menciptakan tata tari sendiri, berjudul “Minangkalbu” yang mengisahkan perhjalalan hidupnya sejak lahir, menempuh riak kehidupan “dan akhirnya menemukan arti keikhlasan, “ katanya.

Kini bersama TNI dia menyiapkan pergelaran “Wayang NKRI” yang menampilkan tujuh dalang dari Palembang, Jawa, Sunda dan Bali. Di Gedung Museum Fathahilah, Jakarta, 29 September 2017 ini.

Eny Sulistyawati, 46, lahir sebagai putri ketiga dari 4 bersaudara. Ayahnya Marinir, ibunya perias pengantin. “Ayah saya yang mendorong saya masuk fakultas seni tari, “ kata wanita asal Nganjuk, Jawa Timur ini. Sejak kecil dia berlatih tari Dolanan, tari Yapong, lalu tari Gambyong, Remo (ngRemo) khas Jawatimuran, dll.

Dunia tari ditinggalkannya ketika dia berkeluarga dan terjun ke bisnis. Tiga anak dilahirkannya dan bisnisnya pun beranak pinak, di bidang pertambangan, resort, waterpark, dan bidang lainnya. Karyawannya ratusan orang. Dia kaya makmur dan sejahtera. Tapi kemudian sakit berbulan bulan. Sampai panggung seni tari dan wayang orang menyembuhkannya.

Tak sekadar membuat pertunjukkan, Eny Sulistyowati juga bergabung dengan Senawangi, Sekretariat Wayang Indonesia, yang membawahi berbagai organisasi pewayangan, termasuk Festival Wayang ASEAN yang baru saja sukses diselenggarakan di Mojokerto, Jawa Timur, Desember 2016 lalu.

Bersama Senawangi wanita kelahiran 1971 ini menerbitkan buku filsafat wayang yang mewah sampai sembilan jilid. Dia mendanai pertunjukan wayang orang hingga keluar dana pribadi hingga miliaran rupiah. Dan dia bahagia sekarang.

Seni Wayang telah mendapatkan penghargaan dari UNESCO sebagai warisan dunia yang tak ternilai, dan Enny Sulistyowati dan pegiat wayang kini, menunggu tindak lanjut pemerintah sebagai pengembangan dan pelestariannya.

“Kami sendiri terus berjuang. Berjuang dengan cara wayang, “ kata wanita berpembawaan ramah tamah ini. – dimas.

Let's block ads! (Why?)