Senin, 30 Oktober 2017

Yahya yang Gigih Menjaga Seni Budaya Betawi

DIA menampilkan diri sebagai sosok pria Betawi pada umumnya: Ramah, terbuka, suka humor, dan pandai berpantun. Selain itu, ke-Betawiannya ditunjukkan olehnya saat menjadi pembawa cerita Sahibul Hikayat atau “Ja’id”, selain jadi pembawa acara (MC) acara pernikahan yang berlangsung dalam budaya Betawi.

Betawi lekat dalam darah dagingnya. Karena dia lahir dari Keluarga Betawi di Gandaria, Jakarta Selatan, 5 Desember 1961, yang dulunya dikenal sebagai “tukang ngiring” (penganten) dan “palang pintu” – lalu menikah dengan perempuan Betawi, dan hari hari mengurusi budaya Betawi.

Yahya Andi Saputra, 56, adalah salahsatu tokoh di Forum Pengkajian Betawi, dan Ketua Bidang Pelestarian Batik Betawi, di kawasan Kampung Budaya Betawi – Jagakarsa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Di luar itu pendekar Betawi yang satu ini merupakan Anggota Komite Sastra, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang kini sedang sibuk menyelenggaraan pelatihan penulisan cerita anak, serta menyambut Festival Sastra Dunia tahun depan.

Kepada ‘Pos Kota’ yang mewawancarinya,semalam, dengan gembira Sarjana UI Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya), tahun 1988 – menyatakan sudah dapat bea siswa untuk menempuh pendidikan S-2 dalam studi khusus tradisi lisan.

Bahkan disiapkan bea siswa untuk S-3-nya, jika studynya lancar. “Sebenarnya banyak orang Betawi jadi jadi ‘orang sekolahan’, intelektual, di sekitar saya aja ada 20-an orang yang lulus S-2 dan S-3. Tapi memang mereka nggak ke bawah lagi, “ katanya, blak blakan.

Sedangkan Yahya Andi Saputra, meski sibuk di kalangan budayawan dan seniman “papan atas” serta tokoh kaliber nasional – bergaul dengan pemikir seni dan budaya – dia juga masih menyambangi acara kawinan, pertunjukan seni, mendatangi sanggar sanggar yang melestarikan budaya Betawi.

Di bawah koordinasinya, Yayasan Keluarga Batik Betawi, ada 50-an sanggar yang membentang dari kawasan Marunda hingga Kebayoran Lama. Yahya menyatakan, perlu keberpihakan pemerintah untuk menjadikan batik Betawi menjadi baju seragam bagi 75 ribu PNS DKI Jakarta dan 17 ribu anak sekolah di ibukota.

“Ini bukan hanya obsesi idealisme, tapi di sana juga ada ekonomi. Tapi juga sangat ‘sexy’ . Kebayang ‘kan angka-angka di belakangnya? “ katanya hati hati, diiringi tawa.

Yahya Andi Saputra menyatakan, dia terobsesi untuk mengedukasi masyarakat, bahwa yang dimaksud dengan Batik Betawi bukan batik ‘printing’, yang dengan Rp.50 ribu bisa didapat di Thamrin City – Kebon Kacang, melainkan batik tulis yang dibuat para perajin melewati proses pembatikkan.

Seiring dengan bertambahnya usia, dan situasi yang terjadi di tanah Betawi kini, semangat keBetawian yang dimiliki Yahya dari waktu ke waktu kian membesar dan hal itu dipelihara serta dipupuknya dengan amat baik. ketika banyak orang memanfaatkan Betawi untuk berbagai tujuan dan kepentingan, Yahya justru lebih sering menjadi “tukang cuci piring” setelah berbagai pesta bernuansa kebetawian berlangsung.

Dia bukan hanya praktisi, peneliti dan pencatat kebudayaan, Yahya juga mengabadikannya dalam buku-buku Betawi yang ditulisnya. Bersama rekan rekannya sesama pemerhati budaya Betawi, Yahya Saputra telah menulis banyak buku, antara lain, “Siklus Betawi, Upacara dan Adat-istiadat”, “Beksi, Maen Pukulan Khas Betawi”, “Pantun Betawi, Refleksi Dinamika, Sosial-Budaya”, dan “Sejarah Jawa Barat Dalam Pantun Melayu Betawi”, “Profil Seni Budaya Betawi”
dan “Ragam Budaya Betawi” yang dijadikan bacaan muatan lokal untuk SD dan SMP

Yahya Andi Saputra juga menulis skenario flm dokumenter, khusus tentang budaya Betawi, antara lain: “Ngelamar Care Betawi”, “Perkawinan Adat Betawi”, “Pergi Haji Care Betawi”, “Silat Beksi”, “Nisfu Sya’ban Betawi”, dan beberapa naskah sandiwara Betawi.

Sejak Kanak Kanak

Kecintaannya kepada kesenian Betawi sudah muncul sejak anak-anak. Saat usianya masih 9 tahun, sebagai anak madrasah, anak ke-8 pasangan H. Rachmat bin Nisin dan Hj. Halifah binti H. Zainuddin, ini sudah ikut pementasan lenong. Jiwa seninya kian menggelegak saat remaja. Mulai menulis puisi, cerpen, resensi maupun opini sejak SMA. Karya tulisnya banyak dimuat di berbagai media ibukota.

Ayah satu putri ini pernah menjadi wartawan majalah periklanan, komunikasi, dan pemasaran Cakram, redaksi tabloid Bens, majalah FUHAB, dan majalah Jembatan. Ia pun aktivis Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Ketua Umum Badan Pemberdayaan Budaya Betawi (BPBB), dan Ketua Bidang Pariwisata dan Kebudayaan DPD Forkabi Jakarta Selatan.

Karena kecintaannya kepada Betawi, anggota Komite Kebudayaan Bamus Betawi, ini pernah tinggal selama tiga bulan di Jepang sebagai Visiting Reseach Fellow, Research Institute for Humanity and Nature (RIHN), Kyoto. Di negeri Matahari Terbit itu Yahya melakukan penelitian dan memberikan presentasi di beberapa universitas tentang kearifan lokal Betawi.

Tak melulu mengurusi seni dan budaya, Yahya juga giat di NU Cilandak dan menjadi staf pengajar pada SMP Yaspia serta dosen tidak tetap D3 Pariwisata, FISIP UI, Depok. Selain itu, kerap diminta menjadi pembicara dalam berbagai seminar dan diskusi budaya. – dimas.

Let's block ads! (Why?)