DI LAMAN Facebook dia pakai nama Diens Marantika – nampaknya merujuk pada penyanyi Broery Marantika, artis lawas kesayangannya. Nama aslinya Udin Samsudin, sehari hari pengusaha bengkel AC di Cirebon. Di luar kesibukannya mengelola bengkel bersama enam karyawannya, Udin mengoleksi kaset. Sudah 3000 kaset koleksinya, dan sebagian besarnya lagu pop Indonesia 1980-an dan 1990-an.
“Sampai sekarang saya masih berburu kaset dan menambah koleksi, “ katanya kepada Pos Kota yang menyambangi rumahnya di kawasan Tengahtani – Cirebon, pekan lalu.
Tak hanya di seantero Cirebon, dia juga khusus ke Bandung, ke Jakarta, terutama ke Jatinegara, Semper, Blok M, dan kota lain yang ditengarai ada penjual kaset jadul.
Kamar tidur rumahnya diubah menjadi pajangan kaset, dengan ribuan kaset yang berderet dan bertumpukkan. Dengan koleksinya yang berlimpah itu, dia pun kerap diundang meramaikan acara pameran. Guru guru anaknya menjadi langganan peminjaman kaset koleksinya. Dia juga aktif di grup-grup penggemar musik 1980-90an
“Anak saya ketularan. Kadang mereka mengingatkan mana kaset yang sudah punya dan mana yang belum. Mereka dan saya akan ‘berburu’. Kadang kalau sudah nemu rasanya mau beli aja, “ kata ayah dua anak remaja, Putri Fitriana, 15, dan Reza Pahlawan, 7,5, ini dengan tawa.
Tak hanya mendengarkan lagu lawas, pria 47 tahun ini pun mendatangi konser artis artis 1980-an, konser juga acara ‘Nostalgia 1980-an’, ‘Golden Memory’, dan lainnya, di teve teve swasta.
Setelah 10 kali nonton pertunjukkan Dian Piesesha, maka Dian bukan hanya mengenali wajahnya, tapi juga mengajaknya sebagai panitia konser, dan datang ke rumahnya di Cireon ketika pelantun lagu ‘Aku Masih Sendiri’ itu, konser di Cirebon.
“Gak sangka banget, Mbak Dian mau main ke rumah saya, “ katanya girang. “
Menurut Dian, koleksi kaset Udin lebih lengkap dibandingkan yang dipunyai penyanyi pop tersebut.
Selain Dian Piesesha, produser JK Record, Judhi Kristianto juga dua kali menyambangi rumahnya.
SEJAK SMP
Udin memulai hobi uniknya sejak masih duduk di bangku SMP di Cirebon, tahun 1984, dengan menulis lirik lagu-lagu pop di buku tulis layaknya remaja jadul. “Saya dengarkan siaran RRI Cirebon dan nyatet syair syair lagu yang mau diputar, “ kenangnya.
Dari sekadar menulis lirik, dia membeli kaset, mengoleksi dan merawatnya. “Dari zaman kaset Rp2000-2500, sampai sekarang Rp40 ribu – untuk kaset langka, “ katanya.
Tak hanya kaset dan poster, kaos, dan semua pernak-pernik lagu pop 1980-90an, melainkan juga playernya, yaitu tape deck, radio tape dan compo. “Saya sudah beli pemutar kaset yang baru. Masih di plastik. Jaga jaga kalau pemutar kaset yang sekarang rusak. Soalnya sudah langka juga, “ kata suami dari Jamilah ini.
Udin konsisten dengan lagu lagu pop 1980-an dan 1990an. Hanya sedikit koleksi kaset barunya, seperti Wali band, yang sesuai dengan seleranya. Bahkan ST-12 dan Setia Band dengan vokalis Charlie Van Houten, yang notabene artis Cirebon tidak dimilikinya.
“Malam hari setelah seharian kerja, mendengarkan lagu lagu 1980-90an merupakan kesibukan rutin saya. Nggak bosan bosan, “ katanya. – dimas.