SARNADI ADAM bukan hanya pelukis asli Betawi satu satunya yang mampu menembus galeri nasional dan internasional, melainkan juga karyanya masuk Istana Negara. Presiden Jokowi langsung jatuh cinta pada satu karyanya, wajah-wajah pengantin Betawi, dan memintanya dikirim ke istana.
“Saya kaget sekali! Waktu pameran memang tanya tanya lukisan saya. Terus bilang ‘saya mau yang ini’. Nggak tahunya besoknya langsung ditelepon istana dan minta dikirim. Langsung dibayar,“ kata Sarnadi Adam, gembira.
Diungkapkan, ini karya pertamanya berukuran 2 M x 1,8 M yang dikoleksi presiden. Juga pamerannya di tengah Lebaran Betawi di Jagakarsa, Juli 2017 lalu, yang dihadiri kepala negara.
“Selama ini yang buka pameran saya menteri menteri dan pejabat atau tokoh setingkat itu, “ kata pelukis 61 tahun, yang konsisten membuat karya bernuansa Betawi, dan pemeran tunggal sejak 1987 lalu.
Bang Nadi – panggilan sehari hari Sarnada Adam – adalah seniman kelahiran Simprug, Kebayoran Lama, lulusan SSRI Yogya, yang konsisten dengan goresan dekoratif dan mengekspose budaya Betawi tempo dulu. Lukisan tentang penari cokek, gambang kromong, rumah Betawi, sawah dan pemandangan sehari hari Betawi tempo dulu menjadi obyek lukisan yang terus dibuatnya sejak 1987 hingga kini.
“Saya ‘juara tunggal’ untuk lukisan obyek Betawi, karena nggak ada seniman lain yang ngikut. Nggak enak juga ini, “ kata dosen senirupa Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dengan tawa.
Di kampusnya dia mencoba mengkader pelukis penerus, yang mengeksplorasi budaya Betawi. “Tapi ya susah. Berat. Hidup sebagai pelukis profesional, memang tak mudah, “ katanya.
“Dua anak saya nggak ada yang ikut jadi seniman. Yang gede mendalami elektro, adiknya mendalami manajemen, “ kata ayah dari Cifra Nadia Putra dan Dera Ictiara, dari pernikahannya dengan Tri Minarni (1984) itu
Padahal, bila konsisten lukisan Betawi banyak disukai, kata kakek satu cucu ini. Bukan hanya di Indonesia, melainkan juga dunia. Itu dibuktikannya sendiri saat pameran di Den Haag, Lieden, dan Amsternam (Belanda), New York (Amerika Serikat) bahkan juga di Argentina – Amerika Selatan. “Semua pameran tunggal, “ katanya bangga.
DIDUKUNG ORANGTUA
Sarnadi Adam lahir di Kampung Simprug, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, 27 Agustus 1956, dari pasangan Nuriha Adam Sardeni. Sejak kecil main suka main di kebon milik ayahnya yang ditumbuhi bermacam pohon buah-buahan. Dia kenangkan saat melukis tanah basah dengan ranting, yamng menarik perhatian teman temannya.
Potensi seni yang dimilikinya mendapat dukungan orang tua dengan membelikan buku dan alat gambar.
Menginjak bangku SMP bakat lukisnya makin terasah. Dia selalu mendapat nilai tertinggi untuk pelajaran seni. Orang tuanya pun tak ragu mengirimkannya ke Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI), Yogyakarta yang kemudian menjadi Sekolah Menengah Seni Rupa (SMRR). Ketika pergi sekolah jauh, ia dilepas bak seorang yang mau pergi haji, selain keluarga, orang sekampungnya melepas kepergiannya.
Sepulang dari Yogya, darah Betawinya bergejolak. Dia melihat tak satu pun pelukis di Jakarta yang punya perhatian terhadap kebudayaan Betawi. Maka dia pun ekpolorasi habis habisan, memindahkan memori masa kecil dan remajanya di kampung Simprug ke atas kanvas. Sejak 1987, dia pun pameran tunggal dan terus berlangsung hingga kini.
“Lukisan budaya Betawi nggak ada saingannya. Nggak ada matinya. Makanya saya nggak kena pengaruh ‘booming’ atau peceklik pasar lukisan, “ kata salahsatu juri acara Abang None Jakarta untuk Budaya Betawi ini. dimas.
Let's block ads! (Why?)