Rabu, 28 November 2018

Dari Wartawan jadi Pemetik Gitar Tunggal

“DULU saya tersesat. Nah, sekarang saya kembali ke jalan yang benar, “kata Jubing Kristanto, dalam nada seloroh, saat kongkow dengan wartawan, menjelang naik panggung dan memainkan gitarnya di sebuah kafe, belum lama ini. Sebelum dikenal sebagai pemetik gitar tunggal, khusus intrumental dan lagu lagu Nusantara, Jubing merupakan wartawan di media tabloid Jakarta di era 1990-an.

Dia bergabung dengan media besar, dan kerap meliput di lapangan sebagaimana wartawan umumnya, antara 1990- 2003 . Itu sebabnya dengan wartawan dia sangat akrab, terutama dari generasi 1990-2.000-an, dimana dia berkarir. “Pengalaman mengesankan. Tapi ternyata jiwa saya lebih ke musik, “ kata wartawan dan seniman kelahiran Semarang, Jawa Tengah ini.

JUBING dikenal sebagai gitaris “fingerstyle” terkemuka di tanah air saat ini. Gaya petikan, begitulah instrumen khas yang didalaminya, memberi warna pada panggung musik Indonesia, karena dia memberi perhatian khusus pada lagu lagu daerah, lagu anak anak yang selama ini cenderung diabaikan dan dilupakan. Aksinya banyak disimak di Youtube dan memiliki penggemar tersendiri.

Musisi 53 tahun ini menjadi gitaris sejak belia. Pada usia 12 dia sudah tampil bergitar mengiringi teman-teman sekolahnya dalam konser publik. Dia kemudian menekuni gitar klasik pada Suhartono Lukito di Semarang. Setahun kemudian dia masuk final Yamaha Festival Gitar Indonesia (YFGI) 1982 untuk bagian bebas atau non klasik.

Sejak itu Jubing kerap mengikuti YFGI-selalu di kategori bebas. Empat gelar juara I (tahun 1987, 1992, 1994, dan 1995) ia raih. Tahun 1984 ia meraih ‘Distinguished Award’ pada Festival Gitar Yamaha se-Asia Tenggara di Hongkong.

Setamat SMA tahun 1985, pria kelahiran 9 April 1966 kuliah di jurusan Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik, Universitas Indonesia dan lulus tahun 1992.

Sembari kuliah, Jubing bekerja di tabloid ‘Nova’. Namun dunia musik dan gitar tetap menggodanya. Tahun 2003, Jubing meninggalkan tablod dan kewartawanan demi menjadi gitaris. Lalu menjadi instruktur dan penguji gitar di Yayasan Musik Indonesia (Yamaha) dan Sekolah Musik “Relasi” Jakarta. Dia juga menulis tetap di majalah edukasi musik “Staccato” dan “Gitar Plus”, serta berkonser/rekaman bersama sejumlah grup di dalam dan luar negeri, termasuk bersama Kwartet Punakawan yang dipimpin pianis Jaya Suprana.
CIPTAKAN ARANSEMEN

Sejak tahun 2000 Jubing menampilkan aransemen dan komposisi gitar ciptaannya sendiri lewat internet. Para gitaris dari berbagai negara telah memainkannya. Sejumlah komposisi Jubing menjadi lagu wajib ujian gitar pada sekolah musik Yayasan Pendidikan Musik (YPM) Jakarta.

ERA 1990-2.000an, meninggalkan kesan mendalam pada Jubing Krisntianto. Lagu lagu yang menjadi hits pada era itu pun meresap di benaknya. Itu sebabnya dia langsung menerima tawaran Leonard ‘Nyo’ Kristianto, CEO JK Records untuk meng-instrumentalkan, lagu lagu romantis JK Record yang pernah populer. Dia “menerjemahkan” lagu-lagu tersebut dalam permainan gitarnya yang khas.

“Ide album ini pertama kali tercetus tahun 2016 dan sejak awal pula sudah terpikir untuk menggarapnya bersama Jubing Kristianto,” kata Nyo Kristianto, Boss JK Records kini, di Kedai Tjikini, Jakarta, pekan lalu.

Album ‘Kasmaran’, yang dikutip dari lagu yang pernah dipopularken Iga Mawarni, menjadi album keenam Jubing. Dengan finger style-nya, Jubing memainkan kembali lagu-lagu JK menjadi persembahan baru, segar, tanpa kehilangan jejak melodinya yang khas.

“Siapa yang tidak kenal lagu JK di masa itu? Bagaimana dengan sekarang, dan apa yang harus dilakukan agar tetap terasa up-to-date adalah pekerjaan rumah saya,” kata Jubing. Ada 14 lagu yang dibawakan Jubing, dua di antaranya dinyanyikan oleh Reda Gaudiamo berjudul ‘Tak lngin Sendiri’ dan Sevi Xiu berjudul ‘Aku Cinta Padamu’.

Meninggalkan dunia wartawan demi mengikuti panggilan hati (passion) untuk menjadi musisi tak sia sia dilakukan Jubing Kristianto. Selain kondang dan rutin manggung di berbagai event, diakui sebagai gitaris fingerstyle terkemuka, dia juga diakui Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai Gitaris Indonesia Pertama yang menyebarluaskan Komposisi dan Aransemen Gitar Pribadi Secara Gratis di Internet.

Pada 2005, ia juga menerima penghargaan MURI sebagai Penulis Ensiklopedia Gitar Pertama di Indonesia. Jubing bereksplorasi dalam aransemen musik untuk lagu anak-anak dan lagu tradisional Indonesia, sebagai upaya memperkenalkan kekayaan khazanah musik Indonesia ke penggemar gitar akustik di dunia. – dimas

Let's block ads! (Why?)