BEKASI – Sebanyak 20 seniman Bekasi menggelar pameran lukisan “Wayah Gini di Kota Bekasi” di Balai Budaya. Dari bernagai sisi pandang, seniman menggambarkan sudut seni cara pandang mereka.
“Acara ini merupakan media respon dari para seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Bekasi (FSB) terhadap kota Bekasi saat ini,” kata Yeksa Sarkeh, Ketua FSB, Senin (22/4/2019).
Menurutnya, perjuangan para seniman Bekasi untuk menghidupkan kembali kesenian yang tersisih akibat pesatnya pembangunan dan industri di Bekasi ini sudah mulai terlihat dengan berhasilnya membuat beberapa kegiatan kesenian dan pameran di Bekasi.
Pameran kali ini diselenggarakan di Balai Budaya, adalah yang pertama kalinya diselenggarakan di luar Bekasi. Berlangsung sejak tanggal 21 – 28 April 2019, dan dibuka oleh Wakil Wali Kota Bekasi, Bapak Tri Adhianto.
“Pemerintah Daerah Kota Bekasi sangat mendukung kegiatan ini, karena selaras dengan tekad Kota Bekasi untuk menjadi kota kreatif,” kata Tri Adhianto.
Para seniman ini merespon suasana Kota Bekasi dari sudut pandangnya masing-masing. Selain berbeda sudut pandang, hal yang menarik untuk disimak di pameran ini adalah dengan beragamnya teknik, media dan cara penyajian dari masing-masing seniman.
Keragaman teknik dan penyajian ini bisa dilihat dari karya kolaborasi Hendrik dan Depi yang merespon masalah sampah di Bantargebang dengan karya instalasinya, dibandingkan dengan karya lukisan Sari Ai dengan tema yang sama, tapi berbeda penyajiannya.
Secara umum, sajian karya-karya seniman Bekasi ini sudah dapat mewakili kondisi Kota Bekasi saat ini. Di balik segala keprihatinan dan kegelisahan akan kondisi kesenian di Bekasi yang semakin tergerus industri dan pembangunan, Kota Bekasi masih memiliki para pejuang seni yang akan tetap berjuang, bertahan, menghidupkan, mempertahankan, melestarikan dan mengembangan kesenian di Bekasi. (chotim/mb)