JAKARTA (Pos Kota) – Suting film drama komedi Fligh 555 di GMF Garuda, kemarin dibanjiri artis-artis top. Diantaranya Jaja Miharja, Gisella Anastasia, Mikha Tambayong, Meriza Febriani, Mathias Muchus, Samuel Zylgwyn, Inggrid Widjanarko, Anyun Cadel, Arafah Ranti, dll.
Bukan sembarangan masuk ke lokasi Hanggar Garuda. Bahkan seorang kru film yang mengenakan sendal, ditegor dan tidak diperbolehkan masuk oleh petugas Garuda di pintu masuk Hanggar. Untung ada Jaja Miharja. Mengenakan jacket coklat tua style anak muda, Jaja yang akrab dipanggil “Ayah” ini mendatangi petugas dan meminta agar kru tersebut dibolehkan masuk.
Akhirnya setelah berbincang-bincang sejenak, kru tersebut diperbolehkan memasuki kawasan Garuda Mantenence Garuda Facility (GMF).
Di tenda make-up, Notje, sibuk memoles wajah Gisella dan Mikha Tambayong yang berperan sebagai Inta dan Shantal, pramugari. Ada juga Meriza Febriani yang sekali-sekali keluar tenda sambil menelepon seseorang. Terlihat serius.
Lain lagi dengan Ingrid Widjanarko. Bolak-balik keluar tenda. Dia kegerahan. Sambil duduk melantai, dia minta diurut pada seorang wartawan. “Aduh, enak juga pijatan bang Ibra, hehe..” katanya tertawa.
Di bawah pesawat Boing, ratusan orang berkumpul dan berteduh dari terik matahari. Dalam cerita, mereka adalah figuran, menjadi penumpang pesawat yang tengah dibajak Stand Up Anyun Cadel Cs.
Di dalam pesawat, Mathias Muchus tengah menjalani suting. Berperan sebagai wakil rakyat, Muchus merampungkan adegan demi adegan dengan mulus. Wajahnya mengucurkan keringat, membikin tukang make-up terus melapnya.
Jelang makan siang, Raymond memerintahkan break. Artis dan kru ngantre makan di tenda logistik. Tampak Samuel melahap makan siangnya sambil duduk di lapangan hanggar. Sedang Ingrid menyendiri. Dia juga makan dengan lahap.
Usai makan siang, suting dilanjutkan. Di dalam pesawat sudah berkumpul para artis dan kru, termasuk juga produser, Duke Rachmat dan Niken Septikasari. Kali ini adegan pembajakan.
Pembajak, ada yang mengacungkan pistol, bom sampai badik. Penumpang panik dan berteriak. Ada yang mencoba jadi pahlawan. Penumpang Jepang pamer gerakan karate. Namun ketika tulang rusuknya digeletik, dia kegelian dan mundur.
Beberapa kali Raymond berteriak cut dan adegan diulang lagi. “Jangan sampai ada yang kosong, semua harus bergerak dan berekspressi!” teriaknya.
Gisella, Mikha dan Meriza sibuk menenangkan penumpang. “Ternyata dalam keadaan segenting apapun, seorang kru Air, termasuk pramugari harus terlihat tenang dan percaya diri, padahal dalam hati, juga takut luar biasa,” ujar Meriza.
Sementara itu Raymond mengaku, suting di dalam pesawat punya kesulitan tersendiri. “Ruang gerak kan sangat terbatas. Bloking-bloking nya susah. Tapi berkat kerjasama yang baik, semua bisa diatasi sesusai adegan dan cerita yang ingin disampaikan,” tuturnya.
Duke Rachmat, produser menjelaskan, film Flight 555 ingin memotret beragam soal yang terjadi dalam masyarakat yang digambarkan lewat berbagai karakter dan kepentingan. “Mudah-mudahan dua pekan lagi film ini sudah bisa selesai dan target kita memang akan diputar di tahun ini juga,” ungkapnya lagi. (ali)