Selasa, 05 Juni 2018

Pelukis Wayang yang Melayang-layang

PEMANDANGAN berbeda terlihat di taman Monas Rabu, 30 Mei 2018 lalu. Presiden Jokowi bersama tamunya, Perdana Menteri India Narendra Modi menyempatkan diri menerbangkan layang-layang. Itulah bagian dari acara memperingati ‘70 Tahun Persahabatan Indonesia – India’ yang dibuka langsung oleh kedua petinggi negara tersebut, yang memang diisi pameran layang-layang berlukis wayang dengan thema Ramayana.

Lebih dari 50 layang-layang dipajang berjejer dalam dua tenda memanjang yang saling berhadapan. Sebagian didatangkan dari India dan sebagian lainnya adalah hasil kreasi anak bangsa, Iskandar Hardjodimuljo, yang memang dikenal sebagai pelukis spesialis wayang.

Sayangnya acara yang sempat menutup sementara pintu masuk Monas dari pengunjung umum itu hanya berlangsung sekejap mata. Usai peresmian panitia langsung mencopot terutama layang-layang buatan Indonesia. Padahal banyak pengunjung yang kemudian mengetahui acara tersebut antusias ingin melihat seperti apa layang-layang berlukis gambar wayang itu.

“Pamerannya memang akan dilanjutkan di Museum Layang-layang,” jelas Iskandar saat bincang-bincang dengan beberapa pengunjung. Lalu bagaimana respon Jokowi melihat semua karya-karya itu?

“Wah, saya ndak tahu. Posisi saya ‘kan jauh dari petinggi itu. Saya tidak ikut mendampingi atau ikut memberi penjelasan waktu Pak Jokowi dan Perdana Menteri India berkeliling melihat layang-layang ini,” jawabnya dengan logat Jawa yang kental.

“Lho, bukankah ini semua karya Anda?”

Lelaki perpenampilan sederhana itu hanya tersenyum dan mengangguk.

Diakui Iskandar, 25 buah layang-layang dari Indonesia itu semua memang buah karyanya yang dia garap sendiri selama hampir dua bulan. Hanya rangkanya yang dibuatkan oleh temannya dari Museum Layang-layang. Tentu saja itu kerja yang luar biasa, mengingat pihak India harus melibatkan 15 personil dalam tim untuk menyelesaikan karya-karya yang mereka pamerkan bersama.

Hal itu diakui oleh Bhavna Shaileh Mehta, pelukis dari India dan sekaligus penggagas serta konseptor untuk setiap cerita yang mereka tampilkan lewat lukisan berthema Ramayana.

Dalam karya-karyanya itu Iskandar memadupadankan artistik pewayangan dari berbagai daerah seperti Banyumas, Kedu, Yogya dan Solo. Untuk tokoh Hanoman misalnya, ia memilih karakter Hanoman dari wayang Yogya yang terkesan lebih gagah. Sedangkan untuk warna dia condong ke Jawa Timuran yang agak merah, meski warna pakem tetap dipertahankan. Sementara itu, meski dilukis di atas layangan, unsur sunggingan tetap dia bikin sangat detil.

PAMERAN TUNGGAL
Tahun 2017 seniman 53 tahun ini berpameran tunggal lukis kaca bergambar wayang di Bangkok, atas undangan Lembaga Sosial dan Budaya SEA-Junction. Pada kesempatan itu ia sempat memberikan work shop ‘wayang uwuh’ ( wayang sampah) dan lukis kaca Indonesia di Bangkok Arts and Culture, dengan peserta yang berasal dari Inggris, Amerika, Srilangka, India, Israel dan beberapa negara lain.

Melihat minat mereka, Iskandar makin terobsesi untuk terus bisa mengenalkan wayang bukan saja di dalam negeri, juga di manca Negara. Lebih-lebih setelah karyanya, Kumbokarno, juga berhasil keluar sebagai juara pertama pada Bali Kites Festival tahun lalu.

“Kenapa saya tekankan mengenalkan wayang di dalam negeri dan manca negara? Karena orang Indonesia sendiri sudah banyak yang tidak tahu tentang perwayangan. Padahal filosifi dan nilai-nilai dalam perwayangan itu dalam dan tinggi sekali. Di situ ada ajaran kebaikan, kehidupan, budi pekerti dan sebagainya, “ katanya.

“Kalau saya ingin membawa wayang ke luar negeri, karena saya ingin orang luar mengenal karakter bangsa Indonesia yang sesungguhnya,” jelas seniman dengan latar belakang pendidikan akutansi ini.

Setelah Bangkok dan India, kini Korea pun mulai meliriknya. Sekolah Internasional Korea di Indonesia telah memintanya untuk memarkan karyanya berupa wayang uwuh pada bulan Juli yang akan datang. Untuk event tersebut ayah dua anak ini tengah menyiapkan berbagai kreasi wayang dari botol mineral, seng, nampan, kardus bekas, hingga lukisan kanvas wayang, lukisan kaca dan layang-layang. (dimas).

Let's block ads! (Why?)