DIA merupakan putra kandung maestro biola Idris Sardi, yang selama beberapa dekade menjadi legenda di musik orkestra, dan ilustrator musik untuk film-film Indonesia, sejak 1970-an, hingga akhir hayatnya. Meraih empat Piala Citra FFI.
Dari Idris Sardi juga lahir penyanyi cilik Santi Sardi, yang bersama sama Chica Koeswoyo ngetop sebagai penyanyi cilik.
Tapi dua anaknya yang lain, Lukman Sardi dan Ajeng Triani Sardi menempuh jalan yang berbeda. Mereka tak pernah dikenal sebagai pemain musik atau pencipta lagu, melainkan eksis di industri perfilman. Selain juga, sinetron. Bakat akting didapat dari Neneknya, Hadidjah, aktris yang populer antara 1940-1970.
Ajeng Triani Sardi popular di era 1970an, bermain dengan sejumlah judul film bahkan mendapat penghargaan Piala Kartini lewat film ‘Pengemis dan Tukang Becak’ (1979) . Namun setelah remaja dan dewasa nama Ajeng Triani tak kedengaran lagi. Bahkan kabarnya menjadi guru piano, mengikuti jejak sang ayahanda.
Sedangkan Lukman Sardi berlanjut dan dikenal sebagai aktor pemeran watak, dan produktif main. Tak kurang 69 judul film diperankan olehnya.
Belakangan ini, tak sekadar berakting di depan kamera sebagai aktor, Lukman juga merambah profesi baru sebagai sutradara dan director creative.
Tampil bercambang dan brewok putih, Lukman Sardi dia mengaku sangat nyaman dengan penampilan seperti itu.
Dalam satu acara peluncuran film, Lukman Sardi melakukan hal yang tak lazim. Dia datang dengan membawa istri, Pricilla Pullunggono dan tiga anaknya, Aktiva Dishan Ranu Sardi, Akira Deshawn Yi Obelom Sardi dan Akino Dashan Kaimana Sardi.
Ketiga jagoannya, memakai seragam jacket bertulis Star. Apa dia ingin keempat jagoannya itu kelak mengikuti jejaknya? “Belum tahu, saya ngga bakal memaksa mereka harus jadi apa. Yang pentingh positif,” ujarnya.
Diakui Lukman, ke empat putranya tersebut memang sangat dekat dengannya. “Kalau bisa, kemana pun saya pergi, mereka inginnya ikut he..he..,” terang Lukman.
Menyoal kembali penampilannya yang sengaja membiarkan brewoknya memutih, Lukman bilang awalnya dari karakternya di film Wiro Sableng yang menuntutnya memanjang jenggot, cambang dengan kepala plontos.
“Nggak taunya lanjut ke film Sultan Agung yang juga harus penampilan kayak gitu. Jadinya, ya gue biarin nggak cukur-cukur. Ternyata nyaman juga. Apalagi istri dan anak-anak nggak protes,” bebernya.
MAKIN PRODUKTIF
Dalam usia 46 tahun, putra pemain biola Idris Sardi (alm) dengan Zerlita ini makin produktif. Tahun lalu dia main di 5 film layar lebar, Jailangkung, Surat Kecil Untuk Tuhan, Sweet 20, Night Bus, dan Jakarta Undercover.
Sedang tahun ini dia baru merilis film terbaru Koki Koki Cilik. Tapi bukan sebagai pemain, melainkan sebagai creative director. Itu terkait posisinya sebagai Head of Production Service and Creativ Producer MNC Pictures. “Pekerjaan saya ini sesuai dengan passion saya,” tandasnya.
Namun sosoknya tetap populer karena ikut mendukung serial sinetron terkenal Dunia Terbalik.
Memulai karir lewat film Kembang-Kembang Plastik di tahun 1978 silam sebagai debutnya di film bioskop, sedikitnya 69 judul film nasional yang sudah diperaninya. Bukan hanya itu, Lukman juga menyutradarai film Di Balik 98 dan film pendek Sang Penjahit di tahun 2009.
“Pengen sih bikin lagi, tapi tawaran main cukup banyak juga dan kerjaan juga banyak, agak sulit nyari waktunya,” ungkap mantan ketua FFI 2016 ini.
Tapi keinginan itu katanya masih menyala. Betapa tidak, film garapannya Di Balik 98 yang dibintangi Chelsea Islan itu meraup 680 ribu penonton. Angka yang cukup bagus untuk sutradara pemula sepertinya. (ali/d)
Let's block ads! (Why?)